- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Penerang Ruangan Otomatis
A. Tujuan (kembali)
1.
Mengetahui tentang cara kerja dari rangkaian penerang ruangan otomatis otomatis.
2. Mengetahui
prinsip kerja dan teori dari rangkaian penerang ruanagan otomatis.
3. Melakukan simulasi rangkaian sederhana penerang ruanagan otomatis.
B. Alat dan
Bahan (kembali)
1. Alat
a. Baterai
Berfungsi untuk mensuplai tegangan pada rangkaian.
b.
Voltmeter DC
Voltmeter adalah sebuah alat ukur yang biasa digunakan untuk mengukur besar tegangan listrik yang ada dalam sebuah rangkaian listrik.
c.
Probe voltage
Berfungsi untuk mendeteksi apakah pada sumber yang di uji terdapat tegangan atau tidak. Bisa menguji tegangan AC serta tegangan DC.
d.
Power supply
Power Supply atau dalam bahasa Indonesia disebut
dengan Catu Daya adalah suatu alat listrik yang dapat menyediakan energi
listrik untuk perangkat listrik ataupun elektronika lainnya.

2. Bahan
a.
Resistor
Resistor berfungsi untuk menghambat atau membatasi
aliran listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian elektronika.
b.
Dioda
Dioda adalah
komponen elektronika yang terdiri dari dua kutub dan berfungsi menyearahkan
arus.
c.
Transistor NPN
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai
sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung arus (switching),
stabilisasi tegangan, dan modulasi sinyal.
Spesifikasi
·
DC current gain maksimal 800
·
Arus Collector kontinu (Ic) 100mA
·
Tegangan Base-Emitter (Vbe) 6V
·
Arus Base maksimal 5mA
Komponen
Input :
d.
Sensor PIR
Konfigurasi PIN:
Spesifikasi Sensor PIR:
·
Vin : DC 5V 9V.
·
Radius : 180 derajat.
·
Jarak deteksi : 5 7 meter.
·
Output : Digital TTL.
·
Memiliki setting sensitivitas.
·
Memiliki setting time delay.
·
Dimensi : 3,2 cm x 2,4 cm x 2,3 cm.
·
Berat : 10 gr.
e.
Photoconductive cells (LDR)
LDR (Light Dependent Resistor) adalah sensor cahaya
yang dapat mengubah besaran cahaya yang diterima menjadi besaran konduktansi.
f.
Sensor load cells
Sel beban (load cells) adalah transduser yang mengubah
gaya menjadi keluaran listrik yang terukur. Meskipun ada banyak jenis sensor
gaya, sel beban pengukur regangan adalah jenis yang paling umum digunakan.
Kecuali untuk laboratorium tertentu di mana timbangan
mekanis presisi masih digunakan, sel beban pengukur regangan mendominasi
industri penimbangan. Sel beban pneumatik kadang-kadang digunakan di mana
keamanan dan kebersihan intrinsik diinginkan, dan sel beban hidraulik
dipertimbangkan di lokasi terpencil, karena tidak memerlukan catu daya. Sel
beban pengukur regangan menawarkan akurasi dari skala penuh 0,03% hingga 0,25%
dan cocok untuk hampir semua aplikasi industri. Jenis-jenis sel beban:
1.
Sel beban hidrolik
High Capacity Tension Link Load Cell
Miniatur load cellSel hidrolik adalah alat keseimbangan gaya, mengukur berat
sebagai perubahan tekanan cairan pengisi internal. Dalam sensor gaya hidrolik
tipe diafragma bergulir, beban atau gaya yang bekerja pada kepala pemuatan
dipindahkan ke piston yang pada gilirannya menekan cairan pengisi yang dibatasi
dalam ruang diafragma elastomer.
Ketika gaya meningkat, tekanan
fluida hidrolik naik. Tekanan ini dapat ditunjukkan secara lokal atau
ditransmisikan untuk indikasi atau kontrol jarak jauh. Outputnya linier dan
relatif tidak terpengaruh oleh jumlah cairan pengisi atau suhunya.
Jika sel beban telah dipasang dan
dikalibrasi dengan benar, akurasi dapat berada dalam skala penuh 0,25% atau
lebih baik, dapat diterima untuk sebagian besar aplikasi penimbangan proses.
Karena sensor ini tidak memiliki komponen listrik, sangat ideal untuk digunakan
di area berbahaya.
Aplikasi sel beban hidraulik yang
umum mencakup penimbangan tangki, baki, dan hopper. Untuk akurasi maksimum,
berat tangki harus diperoleh dengan menempatkan satu sensor gaya di setiap
titik tumpuan dan menjumlahkan keluarannya.
2.
Sel beban pneumatik
Sel beban pneumatik juga beroperasi dengan prinsip
keseimbangan gaya. Perangkat ini menggunakan beberapa ruang peredam untuk
memberikan akurasi yang lebih tinggi daripada perangkat hidrolik. Dalam
beberapa desain, ruang peredam pertama digunakan sebagai ruang berat tara.
Sel beban pneumatik sering digunakan untuk mengukur beban yang relatif
kecil di industri yang mengutamakan kebersihan dan keamanan. Sel Beban Miniatur
Tautan Ketegangan Kapasitas Tinggi
Keuntungan dari jenis sel beban ini termasuk mereka yang secara inheren
tahan ledakan dan tidak sensitif terhadap variasi suhu. Selain itu, mereka
tidak mengandung cairan yang dapat mencemari proses jika diafragma pecah.
Kerugiannya termasuk kecepatan respons yang relatif lambat dan kebutuhan akan
udara atau nitrogen yang bersih, kering, dan teratur.
3.
Sel beban pengukur regangan
Sel beban pengukur regangan adalah
jenis sel beban di mana rakitan pengukur regangan diposisikan di dalam rumah
sel beban untuk mengubah beban yang bekerja padanya menjadi sinyal listrik.
Berat pada load cell diukur dengan fluktuasi tegangan yang ditimbulkan pada
strain gauge ketika mengalami deformasi.
Alat pengukur itu sendiri terikat
pada balok atau anggota struktural yang berubah bentuk ketika beban diterapkan.
Sel beban modern memiliki 4 pengukur regangan yang dipasang di dalamnya untuk
meningkatkan akurasi pengukuran. Dua dari pengukur biasanya dalam ketegangan,
dan dua dalam kompresi, dan dihubungkan dengan penyesuaian kompensasi.
Ketika tidak ada beban pada sel
beban, resistansi masing-masing pengukur regangan akan sama. Namun, ketika di
bawah beban, resistansi pengukur regangan bervariasi, menyebabkan perubahan
tegangan output. Perubahan tegangan keluaran diukur dan diubah menjadi nilai
yang dapat dibaca menggunakan meteran digital.
4.
Sel beban piezoresistif
Serupa dalam pengoperasiannya dengan
pengukur regangan, sensor gaya piezoresistif menghasilkan sinyal keluaran
tingkat tinggi, menjadikannya ideal untuk sistem penimbangan sederhana karena
dapat dihubungkan langsung ke pengukur pembacaan. Ketersediaan amplifier linier
berbiaya rendah telah mengurangi keuntungan ini. Kelemahan tambahan dari
perangkat piezoresistif adalah output nonliniernya. Sel beban Miniatur Load
Cell Ketegangan Tautan Kapasitas Tinggi
5.
Sel beban induktif dan keengganan
Kedua perangkat ini merespons
perpindahan proporsional berat dari inti feromagnetik. Seseorang mengubah
induktansi kumparan solenoida karena pergerakan inti besinya; yang lain
mengubah keengganan celah udara yang sangat kecil.
6.
Sel beban magnetostriktif
Pengoperasian sensor gaya ini
didasarkan pada perubahan permeabilitas bahan feromagnetik di bawah tekanan
yang diberikan. Itu dibangun dari tumpukan laminasi yang membentuk kolom
penahan beban di sekitar satu set belitan transformator primer dan sekunder.
Ketika suatu gaya diterapkan, tegangan menyebabkan distorsi pada pola fluks,
menghasilkan sinyal keluaran yang sebanding dengan beban yang diberikan. Ini
adalah sensor yang kokoh dan terus digunakan untuk pengukuran gaya dan berat di
pabrik rolling dan pabrik strip.
Komponen Output :
g.
Relay
Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara
listrik dan merupakan komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang
terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal
(seperangkat Kontak Saklar/Switch).
Konfigurasi pin:
Spesifikasi:
h.
Lampu
Berfungsi sebagai sebuah peranti yang memproduksi
cahaya/ media penerangan taman
Komponen Lainnya :
i.
Ground
Ground berfungsi sebagai penghantar arus listrik langsung ke bumi atau tanah.
C. Dasar Teori (kembali)
1.
Resistor
Resistor
adalah komponen elektronika pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan
tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu
rangkaian elektronika. Satuan Resistor adalah Ohm
(simbol: Ω) yang merupakan satuan SI untuk resistansi
listrik. Resitor mempunyai nilai resistansi (tahanan) tertentu yang dapat
memproduksi tegangan listrik di antara kedua pin dimana nilai tegangan terhadap
resistansi tersebut berbanding lurus dengan arus yang mengalir, berdasarkan
persamaan hukum Ohm (V = I.R ).
2.
Dioda
Dioda adalah
komponen yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk
menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari
arah sebaliknya. Sebuah Dioda dibuat dengan menggabungkan dua bahan
semi-konduktor tipe-P dan semi-konduktor tipe-N. Ketika dua bahan ini
digabungkan, terbentuk lapisan kecil lain di antaranya yang disebut depletion
layer. Ini karena lapisan tipe-P memiliki hole berlebih
dan lapisan tipe-N memiliki elektron berlebih dan keduanya mencoba berdifusi
satu sama lain membentuk penghambat resistansi tinggi antara kedua bahan
seperti pada gambar di bawah ini. Lapisan penyumbatan ini disebut depletion
layer.
Ketika tegangan positif diterapkan ke
Anoda dan tegangan negatif diterapkan ke Katoda, dioda dikatakan dalam kondisi
bias maju. Selama keadaan ini tegangan positif akan memompa lebih banyak hole ke
daerah tipe-P dan tegangan negatif akan memompa lebih banyak elektron ke daerah
tipe-N yang menyebabkan depletion layer hilang sehingga arus
mengalir dari Anoda ke Katoda. Tegangan minimum yang diperlukan untuk membuat
dioda bias maju disebut forward breakdown voltage.
Jika tegangan negatif diterapkan ke anoda dan
tegangan positif diterapkan ke katoda, dioda dikatakan dalam kondisi bias
terbalik. Selama keadaan ini tegangan negatif akan memompa lebih banyak
elektron ke material tipe-P dan material tipe-N akan mendapatkan lebih
banyak hole dari tegangan positif yang membuat depletion
layer lebih besar dan dengan demikian tidak memungkinkan arus mengalir
melaluinya. Kondisi ini hanya terjadi pada dioda yang ideal, kenyataannya arus
yang kecil tetap dapat mengalir pada bias terbalik dioda.
Dioda dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Dioda Penyearah (Dioda Biasa atau Dioda Bridge) yang berfungsi sebagai
penyearah arus AC ke arus DC.
2. Dioda Zener yang berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai
penstabil tegangan.
3. Dioda LED yang berfungsi sebagai lampu Indikator ataupun lampu penerangan.
4. Dioda Photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya.
5. Dioda Schottky yang berfungsi sebagai Pengendali.
|
Diode Type |
Pinouts |
Symbol |
|
Rectifier
Diode |
|
|
|
Zener
Diode |
|
|
|
Schottky
Diode |
|
|
*Dioda Schottky biasanya berukuran lebih besar dibandingkan dengan dioda
penyearah dan memiliki ciri fisik yang sama
Untuk menentukan arus zenner berlaku persamaan:
Pada grafik terlihat bahwa pada tegangan dibawah ambang batas tegangan mundur (reverse) sebuah dioda akan tembus (menghantar) dan tidak bisa menahan lagi. Batas ini disebut dengan area tegangan breakdown dioda. Kondisi dioda pada area ini adalah tembus atau menghantar dan tidak menghambat. Kemudian pada level tegangan diantara tegangan breakdown dan tegangan forward terdapat area tegangan reverse dan tegangan cut off. Pada area ini kondisi dioda adalah menahan atau tidak mengalirkan arus listrik.
3.
Transistor
Transistor
adalah sebuah komponen di dalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan
semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki dan berfungsi sebagai penguat,
sebagai sirkuit pemutus dan penyambung arus (switching), stabilisasi tegangan,
dan modulasi sinyal. Masing-masing kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan
emitor.
·
Emitor (E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron
atau muatan negatif.
·
Kolektor (C) berperan sebagai saluran bagi muatan
negatif untuk keluar dari dalam transistor.
·
Basis (B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan
negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.
Selain itu,
transistor biasanya juga dapat digunakan sebagai saklar dalam rangkaian
elektronika. Jika ada arus yang cukup besar di kaki basis, transistor akan
mencapai titik jenuh. Pada titik jenuh ini transistor mengalirkan arus secara
maksimum dari kolektor ke emitor sehingga transistor seolah-olah short pada
hubungan kolektor-emitor. Jika arus base sangat kecil maka kolektor dan emitor
bagaikan saklar yang terbuka. Pada kondisi ini transistor dalam keadaan cut off
sehingga tidak ada arus dari kolektor ke emitor.
Rumus
transistor NPN:
4.
Sensor PIR
Sensor PIR
(Passive Infra Red) adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi adanya
pancaran sinar infra merah. Sensor PIR bersifat pasif, artinya sensor ini tidak
memancarkan sinar infra merah tetapi hanya menerima radiasi sinar infra merah
dari luar. Sensor ini biasanya digunakan dalam perancangan detektor gerakan
berbasis PIR. Karena semua benda memancarkan energi radiasi, sebuah gerakan
akan terdeteksi ketika sumber infra merah dengan suhu tertentu (misal: manusia)
melewati sumber infra merah yang lain dengan suhu yang berbeda (misal:
dinding), maka sensor akan membandingkan pancaran infra merah yang diterima setiap satuan waktu, sehingga jika ada pergerakan
maka akan terjadi perubahan pembacaan pada sensor. Sensor PIR
terdiri dari beberapa bagian yaitu :
a.
Lensa Fresnel
Lensa Fresnel pertama kali digunakan pada tahun 1980an. Digunakan sebagai
lensa yang memfokuskan sinar pada lampu mercusuar. Penggunaan paling luas pada
lensa Fresnel adalah pada lampu depan mobil, di mana mereka membiarkan berkas
parallel secara kasar dari pemantul parabola dibentuk untuk memenuhi persyaratan
pola sorotan utama. Namun kini, lensa Fresnel pada mobil telah ditiadakan
diganti dengan lensa plain polikarbonat. Lensa Fresnel juga berguna dalam
pembuatan film, tidak hanya karena kemampuannya untuk memfokuskan sinar terang,
tetapi juga karena intensitas cahaya yang relative konstan diseluruh lebar
berkas cahaya.
b. IR Filter
IR Filter dimodul sensor PIR ini mampu menyaring panjang gelombang sinar
infrared pasif antara 8 sampai 14 mikrometer, sehingga panjang gelombang yang
dihasilkan dari tubuh manusia yang berkisar antara 9 sampai 10 mikrometer ini
saja yang dapat dideteksi oleh sensor. Sehingga Sensor PIR hanya bereaksi pada
tubuh manusia saja.
c.
Pyroelectric
Sensor
Seperti tubuh manusia yang memiliki suhu tubuh kira-kira 32˚C, yang
merupakan suhu panas yang khas yang terdapat pada lingkungan. Pancaran sinar
inframerah inilah yang kemudian ditangkap oleh Pyroelectric sensor yang
merupakan inti dari sensor PIR ini sehingga menyebabkan Pyroelectic sensor yang
terdiri dari galium nitrida, caesium nitrat dan litium tantalate menghasilkan
arus listrik. Mengapa bisa menghasilkan arus listrik? Karena pancaran sinar
inframerah pasif ini membawa energi panas. Material pyroelectric bereaksi
menghasilkan arus listrik karena adanya energi panas yang dibawa oleh infrared
pasif tersebut. Prosesnya hampir sama seperti arus listrik yang terbentuk
ketika sinar matahari mengenai solar cell.
d.
Amplifier
Sebuah sirkuit amplifier yang ada menguatkan arus yang masuk pada material
pyroelectric.
e.
Komparator
Setelah dikuatkan oleh amplifier kemudian arus dibandingkan oleh komparator
sehingga mengahasilkan output.
Pada grafik tersebut ; (a) Arah yang berbeda mengasilkan tegangan yang
bermuatan berbeda ; (b) Semakin dekat jarak objek terhadap sensor PIR, maka
semakin besar tegangan output yang dihasilkan ; (c) Semakin cepat objek
bergerak, maka semakin cepat terdeteksi oleh sensor PIR karena infrared yang
ditimbulkan dengan lebih cepat oleh objek semakin mudah dideteksi oleh PIR,
namun semakin sedikit juga waktu yang dibutuhkan karena sudah diluar jangkauan
sensor PIR.
Grafik Respon :
Dari grafik, didapatkan bahwa suhu juga mempengaruhi seberapa jauh PIR
dapat mendeteksi adanya infrared dimana semakin tinggi suhu disekitar maka
semakin pendek jarak yang bisa diukur oleh PIR.
5.
LDR
LDR (Light
Dependent Resistor) merupakan salah satu komponen resistor yang nilai
resistansinya akan berubah-ubah sesuai dengan intensitas cahaya yang
mengenainya. LDR juga dapat digunakan sebagai sensor cahaya. Semakin banyak cahaya
yang mengenainya, maka akan semakin menurun nilai resistansinya. Sebaliknya,
jika semakin sedikit cahaya yang mengenai sensor (gelap), maka nilai
hambatannya akan semakin besar sehingga arus listrik yang mengalir akan
terhambat. LDR sering digunakan sebagai sensor lampu penerang jalan otomatis,
lampu kamar tidur, alarm, rangkaian anti maling, shutter kamera otomatis, dan
lainnya.
6.
Sensor load cells
Bagaimana cara kerja sel beban?
Sel beban
bekerja dengan mengubah gaya mekanik menjadi nilai digital yang dapat dibaca
dan direkam oleh pengguna. Cara kerja bagian dalam sel beban berbeda
berdasarkan sel beban yang Anda pilih. Ada sel beban hidrolik, sel beban
pneumatik, dan sel beban pengukur regangan. Sensor beban pengukur regangan
adalah yang paling umum digunakan di antara ketiganya. Sel beban pengukur
regangan berisi pengukur regangan di dalamnya yang mengirimkan penyimpangan
tegangan saat di bawah beban. Derajat perubahan tegangan dicakup dalam
pembacaan digital sebagai bobot.
Kapan menggunakan sel beban?
Sebuah sel
beban mengukur kekuatan mekanik, terutama berat benda. Saat ini, hampir semua
timbangan elektronik menggunakan sel beban untuk pengukuran berat. Mereka
banyak digunakan karena akurasi yang mereka dapat mengukur berat. Load cell
menemukan aplikasinya di berbagai bidang yang menuntut akurasi dan presisi. Ada
kelas yang berbeda untuk memuat sel, kelas A, kelas B, kelas C & Kelas D,
dan dengan setiap kelas, ada perubahan dalam akurasi dan kapasitas.
Komponen lainnya :
7.
LED
Lampu Listrik adalah suatu perangkat yang dapat menghasilkan cahaya saat
dialiri arus listrik. Arus listrik yang dimaksud ini dapat berasal tenaga
listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik terpusat (Centrally
Generated Electric Power) seperti PLN dan Genset ataupun tenaga listrik
yang dihasilkan oleh Baterai dan Aki.
Jenis Jenis Lampu Listrik
Seiring dengan perkembangan Teknologi, Lampu Listrik juga telah mengalami
berbagai perbaikan dan kemajuan. Teknologi Lampu Listrik bukan saja Lampu
Pijar yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison saja namun sudah terdiri dari
berbagai jenis dan Teknologi. Pada dasarnya, Lampu Listrik dapat dikategorikan
dalam Tiga jenis yaitu Incandescent Lamp (Lampu Pijar), Gas-discharge Lamp
(Lampu Lucutan Gas) dan Light Emitting Diode (Lampu LED).
8.
Relay
Relay adalah Saklar (Switch)
yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen Electromechanical
(Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil)
dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip
Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik
yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih
tinggi.
Terdapat besi atau yang disebut dengan nama iron core dililit oleh sebuah
kumparan yang berfungsi sebagai pengendali. Sehingga ketika kumparan coil
diberikan arus listrik maka akan menghasilkan gaya elektromagnet. Gaya tersebut
selanjutnya akan menarik armature untuk pindah posisi dari normally close ke
normally open. Dengan demikian saklar menjadi pada posisi baru normally open
yang dapat menghantarkan arus listrik. Ketika armature sudah tidak dialiri arus
listrik lagi maka ia akan kembali pada posisi awal, yaitu normally close.
Fitur:
1. Tegangan pemicu (tegangan kumparan) 5V
2. Arus pemicu 70mA
3. Maksimum beban AC 10A @ 250/125V
4. Maksimum baban DC 10A @ 30/28V
5. Switching maksimum 300 operasi/menit
9.
Pembagi tegangan
Pembagi Tegangan adalah suatu rangkaian sederhana yang mengubah tegangan
besar menjadi tegangan yang lebih kecil. Fungsi dari Pembagi Tegangan ini di
Rangkaian Elektronika adalah untuk membagi Tegangan Input menjadi satu atau
beberapa Tegangan Output yang diperlukan oleh Komponen lainnya didalam
Rangkaian. Hanya dengan menggunakan dua buah Resistor atau lebih dan Tegangan Input,
kita telah mampu membuat sebuah rangkaian pembagi tegangan yang sederhana.Pada
dasarnya, Rangkaian Pembagi Tegangan terdiri dari dua buah resistor yang
dirangkai secara Seri.
D. Percobaan (kembali)
1. Prosedur
percobaan
a.
Buka aplikasi proteus
b.
Pilih komponen yang dibutuhkan, pada rangkaian ini
dibutukan komponen dioda,lampu, Battery, LDR, PIR, Relay, transistor NPN,
resistor
c.
Rangkai setiap komponen menjadi rangkaian yang
diinginkan
d.
Ubah spesifikasi komponen sesuai kebutuhan
e.
Jalankan simulasi rangkaian
2. Rangkaian
simulasi
Rangkaian ini menggunakan LDR dan PIR yang mana apabila cahaya tidak terdeteksi (gelap) di LDR maka Relay di LDR akan on, juga pada PIR yang bila mendeteksi manusia (logika 1) maka menyebabkan relay pada PIR on. Gabungan di antara kedua relay ini menyebabkan adanya arus dari supply ke Lamp L1 dan L2 lalu ke ground, sehingga nantinya akan menghidupkan dua lampu.
3. Prinsip kerja
Saat LDR tidak mendeteksi cahaya dan PIR mendeteksi adanya manusia
Saat pada
malam hari maka LDR tidak mendeteksi cahaya (0.1 lux pada simulasi) yang
menyebabkan besarnya resistansi di LDR, selanjutnya keluaran tegangan LDR akan
di hambat lagi dengan R2 yang diantara LDR dan R2 ini menghasilkan dropdown
tegangan sebesar < 0.10V yang tidak cukup untuk mengaktifkan VBE Q1 sehingga
transistor Q1 off. Karena Q1 off maka tegangan supply selanjutnya akan ke R3 ke
kolektor Q1 lalu ke base Q2 didapatkan tegangan sebesar > 0.84V yang cukup
untuk mengaktifkan VBE Q2, sehingga transistor Q2 on. Oleh karena transistor Q2
on maka arus dari supply ke relay ke kolektor Q2 lalu ke emitor Q2 lalu ke
ground. karena adanya arus di relay maka relay RL1 on dan switch berpindah ke
kiri.
Saat PIR
mendeteksi adanya manusia (logika 1) maka tegangan keluaran (sebesar 5V) dari
PIR masuk ke pembagi tegangan R1 dengan R21, lalu dropdown tegangan di R211
(sebesar 0.77) cukup untuk mengkatifkan VBE Q7, sehingga transistor Q7 on.
Karena onnya transistor Q7 maka arus dari supply ke relay ke kolektor Q7 lalu
ke emitor Q7 lalu ke ground, yang menyebabkan adanya arus di relay sehingga
relay RL10 on dan switch berpindah ke kiri.
Karena
adanya gabungan diantara switch tersebut menyebabkan menyatunya batrai dan dua
buah lampu sehingga adanya arus yang mengalir dari kutup positif batrai
ke dua buah lampu lalu ke kutup negatif batrai. Sehingga akhirnya dua buah
lampupun hidup.
Saat LDR mendeteksi cahaya /
PIR tidak mendeteksi manusia / kedua-duanya
Saat pada
siang hari maka LDR mendeteksi cahaya (> 1.1 lux pada simulasi) yang
menyebabkan turunnya resistansi di LDR, selanjutnya keluaran tegangan LDR akan
di hambat lagi dengan R2 yang diantara LDR dan R2 ini menghasilkan dropdown
tegangan sebesar > 0.67V yang cukup untuk mengaktifkan VBE Q1 sehingga
transistor Q1 on. Karena Q1 on maka sebagian tegangan dari supply akan ke R3 ke
kolektor Q1 lalu ke emitor Q1 lalu ke ground sehingga hanya sebagian kecil
(sebesar 0.21 V) ke base Q2 sehingga tidak cukup untuk mengaktifkan VBE Q2
sehingga transistor Q2 off. Karena offnya transistor Q2 maka arus dari supply
lalu ke relay dan akan terhambat di kolektor Q2, sehingga relay mati dan switch
tetap berada di kanan
Saat PIR
tidak mendeteksi adanya manusia (logika 0) maka tidak ada tegangan keluaran
dari PIR yang masuk ke pembagi tegangan R1 dengan R21, sehingga tidak akan
mengaktifkan transistor Q7 larena tidak adanya tegangan, sehingga transistor Q7
off. Karena offnya transistor Q7 maka arus dari supply ke relay lalu terhambat
di kolektor Q7, yang menyebabkan tidak adanya arus di relay sehingga relay RL10
off dan switch tetap berada di kanan.
Apabila salah satu atau dua duanya switch berada di kanan maka supply tidak akan terhubung ke lampu, sehiingga lampu tidak akan hidup
E. Video (kembali)
F. Download (kembali)
download html di sini
download rangkaian di sini
download video di sini
download library PIR di sini
download materi di sini
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
.png)














%20(3).jpeg)


















Komentar
Posting Komentar